Saatnya Melunasi

Pilihan bodoh bisa mengikuti hidup Anda untuk waktu yang lama.

Ketika saya mulai kuliah, saya mengambil pinjaman mahasiswa sebesar Rp 250.000.000 untuk masuk ke universitas swasta pilihan saya. Di sanalah saya bertemu dengan suami saya, seorang yang baik hati yang juga mengambil pinjaman untuk membayar uang kuliah. Ditambah beberapa hutang kartu kredit dan sedikit pinjaman dari keluarga kami, maka pada saat kami menikah, kami memiliki hutang lebih dari 1 milyar rupiah,

Setelah lulus kuliah, dengan hanya memiliki satu pekerjaan paruh waktu, kami mulai merasa tertekan. Kami melakukan kesalahan dengan memiliki kartu kredit untuk “mengatasi kesulitan keuangan”. Karena saya menggunakan kartu kredit, saya merasa bisa "menyelinap" membeli sesuatu, tidak membatasi diri.

Suatu hari, satu ban mobil kami kempes dan saya pergi mencari tahu berapa perkiraan biaya untuk menggantinya. Jumlah biayanya kecil, tetapi saya tahu kami tidak mampu membelinya. Saya duduk di mobil di tempat parkir dan sambil menangis saya memberi tahu suami saya hal itu. Kami tidak punya uang tunai, dan kartu kredit sudah pada batas maksimal, jadi kami tidak bisa membeli ban baru. Kami menggunakan ban cadangan yang kami miliki di bagasi kami selama bertahun-tahun. Setiap kali saya mengendarai mobil, saya merasa miskin.

Saya merasa terperangkap dan tidak dapat mengendalikan uang saya.

Saya tahu pada saat itu kami sedang dalam kekacauan. Kami harus keluar dari situ. Cukup sudah. Kami tidak memiliki semua jawaban, hanya fakta bahwa saya merasa ngeri kapan pun kami harus membayar sesuatu, dan saya terus-menerus menghabiskan lebih banyak uang untuk hal-hal di luar kebutuhan saya. Saya merasa terperangkap dan tidak dapat mengendalikan uang saya. Uang justru mengendalikan saya.

Kami membuat keputusan sulit untuk berhenti menggunakan kartu kredit dan beralih ke sistem pembayaran tunai. Itu sulit, tetapi kami mulai melunasi kartu kredit sedikit demi sedikit. Kami butuh enam bulan untuk melunasi 20 juta rupiah, jumlah yang sepertinya sangat banyak pada saat itu.

Kami perlahan merangkak keluar dari lubang yang telah kami gali sendiri, dan kami masih beringsut maju menuju garis akhir. Saya memikirkan hutang kami setiap hari dan sering merasa sepertinya kami tidak akan pernah bisa membayar semuanya. Sudah empat tahun kami merasa terperangkap, semua uang ekstra kami habis untuk membayar hutang, dan pada saat ini saya tidak bisa membayangkan terbebas dari beban ini.

Jka Anda merasa terperangkap oleh keuangan Anda dan Anda tidak tahu jalan keluarnya, bicaralah dengan kami. Anda tidak sendiri. Jika Anda ingin berbicara, kami di sini untuk Anda. Anda tidak perlu memikul beban sendirian.

Photo Credit: Etienne Boulanger